Pernahkah kita melihat ada orang yang selalu perhitungan saat membeli sebuah barang? Mau beli lemari satu pintu atau 2 pintu? Mau beli motor Listrik atau motor konvensional? Atau beli sepeda aja? Mau masak di rumah atau makan di resto? Kira-kira berapa cost-nya untuk beli barang baru atau mending beli bekas aja? Nah, bisa jadi orang-orang ini sedang menerapkan gaya hidup minimalis atau frugal living.
Jika kita berkungjung ke rumah orang-orang yang menerapkan gaya hidup seperti ini pasti di rumahnya tidak banyak perabotan rumah tangga seperti orang-orang tua kita zaman 80 atau 90 an. Bahkan di dalam kamarnya mungkin Cuma ada 1 lemari, Kasur dan bantal. Mungkin terlihat sangat pelit dengan kehidupan sendiri. Tapi ini bukan pelit ya guys, mereka sedang memiliki prioritas untuk membeli suatu barang.
Hidup Frugal itu Bukan Pelit
Frugal living merupakan gaya hidup dengan pengelolaan
keuangan yang bijak. Jadi bukan berati mereka pelit dan tidak membeli apapun. Mereka
tetap membeli barang-barang tapi mempertimbangkan
harga dan fungsi yang diperolehnya. Artinya mereka bisa memprioritaskan barang
apa yang ingin di beli.
Apa bedanya dengan mereka yang pelit. Pelit mereka menghemat pengeluaran hingga di bawah batas kebutuhan. Mereka tidak mau mengeluarkan uang untuk barang yang sebenarnya mereka butuhkan untuk hidup. Jadi inilah letaknya antara pelit dan frugal living.
Orang-orang yang hidup dengan gaya ini punya target
finansial yang ketat. Mereka punya perencanaan keuangan yang matang dan mempertimbangkan
segala aspek untuk menekan pengeluaran yang signifikan. Contohnya saat kita
punya skill memasak lebih baik kita memasak makanan sendiri dan
menghemat pengeluaran untuk makan di resto. Contoh lain misalnya ketika kita
memiliki kendaraan kita mempertimbangkan pergi servis setiap bulannya
dibandingkan menundanya sampai sparepartnya aus, sehingga perlu mengganti
sparepart yang baru.
Sejarah Singkat Frugal Living
Konsep frugal living sendiri berawal dari warga Amerika
Serikat yang hidup dalam tekanan ekonomi pada tahun 1929-1939 dikenal juga
dengan istilah The Great Depression. Kondisi ekonomi yang sulit
menyebabkan orang-orang mulai mempertimbangkan nilai uang, sehingga orang mulai
hidup hemat dan menghindari pemborosan.
Bukan hanya menghindari pemborosan, penerapan frugal living bagi sebagian orang dijalankan karena sadar akan hidup yang berkelanjutan. Usia bumi yang sudah begitu lama membuat orang sadar akan menghemat energi, tidak membuang-buang makanan, dan membatasi penggunaan plastik. Selain itu, kondisi wabah Covid-19, resesi, dan krisis ekonomi global mendorong banyak orang menerapkan gaya hidup ini.
Prinsip-prinsip Frugal Living
Biar memperjelas lagi bagaimana konsep frugal living ini. Saya mengutip beberapa prinsip-prinsip penting tentang frugal living dari laman prudential.
- Membeli barang yang dibutuhkan, lebih mempertimbangkan kebutuhan dan menekan keinginan. Barang atau jasa yang dibeli adalah barang yang benar-benar kita butuhkan.
- Menghindari pemborosan, tidak membeli barang lebih dari yang dibutuhkan. Pemborosan berati tidak menghargai nilai uang dengan mengambur-hamburkannya.
- Mencari alternatif yang lebih murah, jika ada salah satu brand/merk tas mahal mengeluarkan produk baru, mungkin tidak perlu langsung membelinya. Kita bisa memilih merk lokal dengan kualitas tas yang sama sebagai alternatif lain.
- Memperbaiki kebiasaan finansial, kalua kita punya kebiasaan judol, atau pinjol, mungkin perlu merubah kebiasaan ini. Namanya juga gaya hidup berati ada perilaku dan kebiasaan yang dilakukan sesuai dengan konsep gaya hidup yang kita anut.
- Menjaga keseimbangan keuangan, pentinganya menjaga antara pengeluaran dan pendapatan. Pencatatan pengeluaran dan pelacakannya sangat penting supaya kita tahu dengan benar kemana selama ini pengeluaran yang kita lakukan.
Pada akhirnya konsep frugal living bukan hanya tentang hidup hemat, dan menghindari pemborosan. Ini tentang kondisi masayarakat yang di desak dengan keadaan ekonomi dan lingkungan. Konsep ini memberikan kita kesadaran terkait nilai uang bukan hanya sebatas alat tukar tapi tentang prioritas barang yang dibeli untuk bisa terus hidup lebih lama, tanpa mengorbankan sumber daya begitu besar dan mempertimbangkan keberlanjutan.

